Dokter Ikan, Inovasi Digital Dukung Kesehatan Ikan dan Petambak

Pengabdian di Center of Marine Ecology and Biomonitoring for Sustainable Aquaculture (CeMEBSA), Jepara

Semarang, tekkom.ft.undip.ac.id – Tim pengabdian kepada masyarakat Departemen Teknik Komputer yang terdiri atas tujuh anggota, yakni tiga mahasiswa Program Studi Teknik Komputer (Fadlil Ferdiansyah, Irawan Habib Yulianto, dan Muhammad Zamrol Imada) serta empat dosen (Patricia Evericho Mountaines, Erwin Adriono, Yudi Eko Windarto, dan Arseto Satriyo Nugroho), mengembangkan sebuah solusi digital untuk mendukung sektor akuakultur di Indonesia.

Kegiatan pengabdian ini dilatarbelakangi oleh besarnya potensi akuakultur Indonesia sebagai salah satu penopang pemenuhan kebutuhan protein global, yang didukung oleh kekayaan keanekaragaman hayati laut. Namun demikian, banyak petambak ikan masih menghadapi keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan ikan yang tepat waktu, sehingga sering kali mengandalkan pengalaman pribadi atau informasi dari internet ketika terjadi gangguan kesehatan ikan. Kondisi tersebut berisiko memicu penyebaran penyakit yang tidak terkontrol dan berdampak pada penurunan ekonomi.

Tampilan Hasil Deteksi Penyakit Ikan

Sebagai solusi, tim mengembangkan aplikasi berbasis web bernama Dokter Ikan (Fish Doctor) yang dirancang untuk membantu petambak dalam mendeteksi spesies ikan, mendiagnosis penyakit, serta melakukan konsultasi kesehatan ikan dengan tenaga ahli. Aplikasi ini dikembangkan menggunakan Next.js, Express.js, dan MySQL, serta mengintegrasikan teknologi computer vision dan expert system. Deteksi spesies ikan dilakukan menggunakan metode image-based YOLOv11, sementara diagnosis penyakit menerapkan pendekatan rule-based forward chaining, yang dilengkapi dengan modul konsultasi daring.

Aplikasi Dokter Ikan dirancang sebagai Progressive Web App (PWA) dengan kemampuan offline-first, sehingga dapat digunakan di wilayah dengan keterbatasan konektivitas internet. Pengguna cukup mengunggah foto ikan untuk mengetahui spesiesnya, atau memasukkan gejala fisik dan perilaku ikan untuk memperoleh hasil diagnosis penyakit secara cepat dan praktis.

Melalui pengembangan aplikasi ini, tim berharap Dokter Ikan dapat menjadi solusi yang aksesibel dan aplikatif dalam mendukung pengelolaan kesehatan ikan, mendorong intervensi dini untuk mencegah kematian ikan secara massal, serta mengurangi risiko kerugian ekonomi. Inisiatif ini juga sejalan dengan SDG 2 (Zero Hunger) dan SDG 12 (Responsible Consumption and Production) dalam mendukung praktik akuakultur yang berkelanjutan dan bertanggung jawab.

Sumber:
Technology-Based Fish Health Service Innovation for Sustainable Aquaculture Practices in Indonesia, Jurnal SPEKTA, Universitas Ahmad Dahlan.

https://journal2.uad.ac.id/index.php/spekta/article/view/13492